Teman Wanita Tewas, Oknum Mahasiswa UIN Raden Intan Lampung Tersangka

 

 

Bandar Lampung –  Kabar kematian mahasiswi asal Kabupaten Lampung Tengah benar-benar mematik keprihatinan semua pihak

Kematian AP (21), mahasiswi, warga Sriwaluyo 2 RT. 019/007, Buyut Ilir, Kecamatan Gunungsugih, Kabupaten Lampung Tengah (Lamteng), diduga tewas akibat pendarahan hebat.

Dia tewas di kamar kontrakan teman prianya, Frengky (21) alias Kiki, Mahasiswa semetester III, Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, di Dusun 1 C, Desa Sabahbalau pada Minggu, 13 Maret 2022, sore lalu.

Frengki mahasiswa angkatan tahun 2021 Kampus UIN RIL itu di rumah akrab dipanggil Kiki. Berasal dari Desa Tanjung Kemala, Kecamatan Bengkunat, Kabupaten Pesisir Barat. Kiki yang sejak November 2021 lalu mengontrak di Sabah Balau, Lampung Selatan itu kini menjadi tersangka di Polsek Tanjung Bintang, Polres Lampung Selatan.

Di rumah kontrakan milik Abdul Wahid dan Mutia, di Dusun 1 C, Desa Sabah Balau, Kecamatan Tanjung Bintang itu, Kiki tinggal bersama Ariyanda dan Ahmad Arizal Husin, yang juga berstatus sebagai mahasiswa angkatan tahun 2021 di UIN Raden Intan Lampung.

Hingga kini kontrakan itu masih dipasang garis policeline. Rumah itu hanya berjarak 20 meter dari kediaman sang pemilik kontrakan. Di tengah terdapat kolam ikan pemancingan ikan.
“Maaf mas, bapaknya (suami,red) sedang sholat asyar,” kata Mutia, Sabtu 19 Maret 2022 sekitar pukul 16.30 sore.

Menurut Mutia, Frengki alias Kiki itu mulai mengontrak di rumah itu sejak November 2021. Kiki memiliki kerabat yang juga tinggal di wilayah Sabah Balau. “Mereka itu bersaudara sepupuan, saudara dari adek emaknya,anak waknya gitulah,” kata Mutia.

Mutia mengatakan saat peristiwa itu, suaminya Abdul Wahid sedang pergi untuk mengikuti pengajian hingga siang hari. Sementara dirinya ba’da Isya sudah tidur dan baru bangung di jam 2:00 Wib dini hari. Karena setiap jam itu, harus pergi berdagang dipasar hingga sore hari. Sepulang dari pasar barulah Mutia mendapakan kabar tersebut.

“Jam seginilah kira-kira, saya pulang dari pasar, dan dikabarin kasus itu. Bukan diorang (kiki, Ariyanda dan Ahmad) yang kesini. Tapi mereka menghubungi atau nelpon emaknya di kampung. Emaknya nelpon temannya orang Krui yang ada di Sabah Balau kampung. Terus katanya temen anaknya yang ngontrak ada temenya cewek minep di rumah itu tapi posisinya meninggal,” kata Mutia menirukan cerita anak kosnya.

Lalu, kata Mutia, datang pria dewasa ke rumah mereka memberitahukan bahwa ada yang meninggal di kamar kotrakan. Lalu mendatangi ketua RT untuk bersama sama melihat lokasi.
“Tiba disana lihat perempuan tegeletak di kasur banyak darah. Bahkan hingga ke dinding-dinding kamar. Kelihatan bekas dilap gitu,” katanya

“Sepertinya meninggal karena kehabisan darah gitu ya. Saya perempuan ya lihatnya janggal. Itu mirip seperti wanita pendarahan seperti habis melahirkan. Kalo orang berhubungan badan ya ndak segitulah darahnya,” kata Mutia, sambil menunggu suaminya yang sedang Salat.

Mutia menceritakan, bahwa pria dewasa yang mengaku kerabat Fredy mengatakan kepada mereka bahwa dirumah sebelah itu bawa temen semalem minep tapi perempuan. Dan sekarang posisinya temannya itu meninggal. “Kami langsung lapor Rt. Kami lihat jenazahnya dari pintu kamar. Yang dua anak itu pergi ke Polsek sukarame termasuk Frengki untuk mengadu ke Polisi kalo temennya numpang minep kok ninggal gitu. Ariyanda yang nungguin jenazah,” kata Mutia.

Ariyandi sempat ditanya, apakah wanita itu pacarnya atau temenya. Ariyanda mengaku tidak tahu. “Ariyanda bilang tidak tahu. Itu abang (Frengki) katanya temennya,” ujar Mutia.

Ariyanda yang ditanya kenapa meninggal Ariyanda mengatakan tidak tahu hanya melihat banyak darah keluar dari kemaluannya. “Itu bu berdarah-darah, saya itu ditelpon katanya abang )Frengki) suruh nyariin obat pemberhenti darah ke apotik. Sudah saya kasih obatnya saya ke kamar tidur bu. Lalu abang itulah yang jagain ceweknya sampe siang,” kata Mutia menirukan Ariyanda.

Mutia kemudian kembali bertanya ke Ariyanda, Kenapa bisa meninggal ngga ngomong sama ibu pas minep?,” Ariyanda menjawab, “Orang datengnya udah malam ibu sudah tidur udah itu ibu sudah ke pasar. Katanya datang di Jam 10:00 Wib, itu temen abang atau pacarnya saya juga ngga tau,” ujar Mutia menirukan Ariyanda.

“Katanya niatnya mau dibawa ke rumah sakit tapi sudah keadaan kayak gtu, jadi mereka itu saya sempat liat pas pulang duduk aja di depan rumah kayak orang kebingungan. Tapi mereka itu kok ngga ngomong, mungkin mereka ngga berani ngadu. Kayaknya udah kritis mungkin udah sore kan. kalo wajahnya itu saya liat dari pintu udah pucat putih gitu,” kata Mutia.

Lalu, lanjut Mutia polisi datang. Jenazah itu kemudian diangkat kedua sepupunya yang ikut ke Polsek Tanjung Bintang. SEmentara Frengki sudah lebih dulu dibawa ke Polsek. Apakah sebelumnya Mutia sudah pernah melihat wanita itu main ke kontrakan Frengki? Mutia mengaku baru melihat wanita saat kejadian,

“Baru itu saya lihat, kalo sebelumnya ada juga cewek minep tapi katanya minan-minannya gitu. Emaknya saya telpon kenapa ada cewek katanya itu sepupunya katanya lagi liburan dari pada mereka makan beli jadi ada yang masakin kalo yang satunya yang tinggi katanya adeknya Frengki udah itu ya ngga pernah liat cewek dateng sampe kejadian ini,” Kata Mutia.

Mutia mengaku sempat heran dengan cerita dimedia, yang melangsir keterangan dari Polsek, yang menyebut cerita bahwa darah keluar saat berhubungan badan. “Saya ini perempuan, jika darah menstruasi tidak sebayak itu. Hingga ada bercak ditembok dan terdapat darah yang menggumpal. Banyak darah dilantai, ada di ember, lap pel mungkin waktu pendaharaan dirawat Frengki yang membersihkannya. Saya heran kenapa sih kalo ngga ada apa-apa nggak dibawa kerumah sakit?,” kata heran.

“Ada juga darah menggumpal gitu. Tapi bukan kayak gumpalan darah janin bukan mungkin kalo bener ada kemungkinan begitu, janinnya mungkin masih didalam,” ucap Mutia yang curiga ada upaya pengguguran kandungan. “Gosip yang beredar disekitar kampung sisi, katanya keduanya sudah memiliki hubungan atau pacaran. Sehingga diperkirakan sang perempuan hamil dan mengadukan hal itu kepada pelaku, lalu menurutnya bisa saja mereka bersepakat untuk membuang janinnya saja,” ucapnya.

Abdul Wahid mengaku sempat melihat wanita itu datang ke kontrakan. Wanita itu dibonceng bertiga oleh Frengki dan Ariyanda, sebelum kejadian. “Kalo nama lengkapnya ngga tau, orang bapaknya cuma ngomong itu Namanya Frengki kalo dipanggil biasa Kiki waktu awal ngontrak kesini. Kalo yang ada itu pengakuan Frengki aja dia orang udah kenal lama lah, orang itu bonceng tiga dijemput yang ngaku sodaranya itu yang ngomong Ariyanda, karena udah lemes.” kata Abdul Wajid.

Menurut Wahid, bahkan pekan lalu dia sempat melihat wanita itu bersama Frengki. “Sekilas pernah papasan. Saya pernah lihat anak yang ninggal itu seminggu sebelumnya. Ya jam seginilah aku liatnya pokoknya pernah ngeliat. Yang pasti sudah pacaranlah itu, fikirannya orang sudah meninggal jadi ngomongnyakan kebalik-balik istilahnya ngga ada saksi,” kata Abdul.

Wahid tidak sependapat dengan cerita di media, yang menurut ceritanya agak janggal. “Yang jelas karena itu ngga bener, jadi dia takut. Kalo bener cerita begitu mah ngomong aja sebelumnya kesini pasti langsung labas ke rumah sakit kan tertolong nyawanya. Karena pasti ngga bener itu tadi,” ujar Wahid.

Wahid membenarkan jika Frengki dan dua kerabatnya yang tinggal satu kontrakan itu adalah mahasiswa UIN RIL. “Itu emang anak kuliah di UIN. Belum lama lalu, Frengki terlibat keributan dengan warga tetangga kampung. Kasusnya ada cewek lain, bukan yang ninggal itu. datang kesini. Lalu saudaranya laki-lakinya datang kesini rame bener mas. Sampe pukul-pukulan juga. Itu sekitar satu bulan tinggal disini. Udah tak omongan bagus-bagus, baik malah diulangin lebih fatal makanya hadeh ngga beres,” ucap Abdul terlihat kesal.

Abdul Wahid menceritakan dua hari sebelum kejadian meninggalnya Ammessty Puspita di kontrakannya, dia yang belum tidur pada pukul jam 11:00 Wib malam mendengar di rumah tersebut sedang karaokean.

“Kalo tiap malemnya mereka itu seperti ngga pernah tidur, kalo aku kan kalo malem sebelum tidur suka melihat mereka kadang berada di depan rumah maen HP,” katanya.

Wahid menjelaskan bahwa sebelum ke Polsek, Frengi itu menghubungi orang tuanya. “Sebelum ke Polsek mereka ngebel bapaknya. Awalnya mereka ke Polsek mau laporan. Tapi Polisi pasti lebih paham. Meski bicaranya balik-balik Polisi pasti paham,” ucap Abdul.

Abdul Wahid mengaku, pasca kejadian, pada malam harinya pihak keluarga Frengki datang dari Pesisir Barat. Mereka datang hanya melihat dari luar rumah. “Bapaknya itu kesini tengah malam lagi, sehari setelah kejadian. Mereka mengendarai mobil satu motor dua. Mereka kesitu, kerumah kontrakan dan cuma melihat dari luar saja. Bapaknya juga ngomong katanya baru pertama kali kesini,” Kata Abdul.

Abdul Wahid menyatakan orang tua Frengki datang dan hanya mengatakan anaknya kena musibah. “Kalo waktu kesini bapaknya sih ngga ada ngomong kata maaf karena kejadian itu disini. Bapaknya cuma ngomong kalo anaknya dapat musibah kayak gini. Orang lain yang berbuat anaknya kena imbas dan harus tanggung jawab. Ya cuma ngomong gitu aja terus pergi,” ujar Abdul.

Wahid menduga, si peremuan itu (almarhum) lebih dulu mengalami pendarahan, kemudian minta dijemput Frengki. “Ya mungkin kejadian itu anak itu ngebel bahwa di sana sudah pendarahan otomatis ngebel cowoknya suruh jemput. Katanya Arizal itu makanya ngga ngelapor kesini itu takut, apa takut dimasa orang sini karena ngerasa perbuatan ngga bener itu saya juga ngga tau,” kata Abdul dikutip Sinarlampung.co.

Frengki Mengaku Kenal di Medsos

Kapolsek Tanjung Bintang Kompol Faria Arista, Selasa 15 Maret 2022 mengatakan pihaknya telah menetapkan Frengki sebagai tersangka dalam kematian Ammessty Puspita, Polisi menjerat Frengki dengan sangkaan melanggar Pasal 338 dan atau pasal 351 ayat (3) dan atau pasal 359 KUH Pidana.

Faria menjelaskan bahwa dalam ungkap kasus penemuan mayat wanita, disalah satu kamar Kontrakan di Desa Sabah Balau Kecamatan Tanjung Bintang. Awalnya mereka menerima laporan dari Frengki yang mengaku sebagai teman korban ke Polsek Tanjung Bintang. Usai menerima laporan, pihaknya melakukan olah TKP dan meminta keterangan terhadap pelapor dan para saksi yang mengetahui dan berada di lokasi kejadian.

“Pelapor FRE (21) mendatangi Polsek Tanjung Bintang dan melaporkan bahwa teman perempuannya yakni Ammesty Puspita (korban) telah meninggal dunia di Kamar Kos di Desa Sabah BaLau Kecamatan Tanjung Bintang. Dalam keteranganya FRE kepada petugas mengaku kenal dengan korban kurang lebih 1 minggu yang lalu melalui aplikasi TANTAN,” kata Kapolsek.

Selanjutnya pada hari Sabtu 12 Maret 2022 sekira jam 19. 30 wib, Fre menjemput korban di kosan di depan kampus UBL dan mengajak jalan-jalan seputaran Bandar Lampung. Sekira pukul 22.00 wib FRE mengajak korban ke kosannya yang beralamat Di Dusun 1 C Desa Sabah Balau Kecamatan Tanjung Bintang Lampung Selatan.

Sesampainya di kosan, FRE mengobrol bersama korban di ruang tamu, dan sekira pukul 22.30 wib masuk kedalam kamar bersama korban dan berkata, ”Saya minta melakukan hubungan intim,”. Korban hanya diam saja, kemudian FRE melakukan hubungan intim layaknya suami istri. Namun di saat itu FRE melihat kemaluan korban mengeluarkan darah dan mencoba membersihkan dengan sarung dan korban duduk sambil berkata cariin obat penambah Darah di Apotik.

Pukul 23.30 wib, FRE menghubungi saksi (adiknya) Ariyanda dan Ahmad Arizal Husin untuk membelikan obat penambah darah di Apotik. Pada saat sampai di kosan kakaknya, keduanya melihat korban tidur di kasur dalam. Kondisi telentang dan merintih kesakitan, juga melihat darah dilantai kamar.

FRE mengambil obat dari adiknya dan memberikan kepada korban, dan kemudian saksi tidur dikamar Masing-masing, sedangkan FRE tidur bersama korban dan berkata ”Saya alergi dan mungkin dosisnya terlalu tinggi,” namun saat ditanya kenapa diminum, korban diam saja.

Menurut Kapolsek, dari keterangan Fre, pada Minggu 13 Maret 2022 sekira pukul 07.30, FRE bangun karena akan kuliah, saat diluar kepada kedua saksi berkata bahwa korban semakin pucat, dan FRE terus melanjutkan kuliah secara Daring dikontrakkan ya. Namun sekira jam 14.30 wib saat FRE mengecek kondisinya korban sudah tidak bernafas, dan menyampaikan kepada kedua saksi bahwa korban sudah meninggal dunia.

Kemudian setelah dilakukan pemeriksaan dan meminta keterangan kepada pelapor, kedua saksi, olah TKP dan barang bukti yang ditemukan, akhirnya Polsek Tanjung Bintang menetapkan FRE sebagai tersangka. Untuk mempertanggung jawabkan perbuatanya FRE bersama barang buktinya berupa (satu)stel pakaian yang di kenakan oleh korban satu buah sarung yang di gunakan tersangka untuk mengelap darah korban pada saat pendarahan. Satu unit HP merk Realme warna hijau milik korban sudah diamankan di Polsek Tanjung Bintang guna penyidikan lebih lanjut.(red)

Tinggalkan Balasan