Oknum Anggota DPRD Lampung Timur Diduga Kuat Menjual Pupuk Bersubsidi di atas HET

Lampung Timur – Oknum
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kabupaten Lampung
Timur(Lamtim), Purwianto diduga kuat menjual pupuk bersubsidi melebihi
Harga Eceran Tertinggi (HET) pada petani.

Salah seorang petani yang tinggal di Desa Tegal Ombo Kecamatan Way Bungur Lamtim,
Budiono,
menuturkan, di mana keterangan petani di wilayahnya mengaku harga pupuk
jenis urea di kios milik Purwianto atau yang akrab disapa Herman
menjual pupuk tersebut, per sak, atau 50 Kilo gram diharga Rp100 ribu.

Kemudian kata dia, untuk jenis NPK 130 dan SP 36 Rp150‎ ribu di kios.

“Saya
juga tidak tahu. Kok bisa mahal gitu?. Apa karena saya tidak mau masuk
anggota kelompok tani?. Karena pengurusnya tidak beres, makanya(saya)
tidak masuk,” keluh Budiono, Selasa(14/06/2016).

Salah satu
aktivis di kabupaten setempat, Ropian mengecam oknum Anggota DPRD Lamtim
yang semestinya ikut memantau dan mengontrol program pemerintah dalam
pendistribusian pupuk bersubsidi yang beredar di masyarakat.
Justeru kata Ropian ini sebaliknya, diduga kuat Herman mencari keuntungan dengan keadaan masyarakat petani.

“Anggota
Dewan semestinya melakukan pengawasan atas program pemerintah yang
telah menetapkan HET pupuk bersubsisi sebagai barang dalam pengawasan,
tambah Ropian.

Dalam aturannya, sudah dituangkan mulai dari pengadaan dan penyaluranya telah dibiayai oleh pemerintah.

Karenanya
kata Ropian, penjualan pupuk bersubsidi di atas HET tersebut telah
melanggar Peraturan Menteri Pertanian(PERMENTAN) Nomor 60 Tahun 2015
tentang Kebutuhan dan Harga Eceran Tertinggi(HET) tentang Pupuk
Bersubsidi Sektor Pertanian Tahun 2016.

Di lain pihak, Ketua
Komisi III, Purwianto didampingi, Penyidik Pengawai Negri Sipil (PPNS)
membidangi Pupuk dan Pestisida Lampung Timur, Heriyanto,  menjelaskan,
soal penjualan pupuk subsidi di atas HET tersebut merupakan persoalan
klasik yang umum terjadi di seluruh daerah, bukan hanya Lamtim.

Dikatakannya,
pengecer juga menjual di atas HET. Karena terbentur biaya, sebab pupuk
yang turun dari kendaraan terkena biaya Rp750 ribu tiap satu sak-nya.
(FR)

Tinggalkan Balasan