Soal Jalur Negri Katon-Branti Lampung, Khalid Mustafa; Perbaikan Harus Sesuai Kontrak

Khalid Mustafa(Kiri)
PESAWARAN- Pihak rekanan Dinas Bina Marga(DBM) memperbaiki kembali jalan
penghubung Negri Katon(Pesawaran)-Branti(Lampung Selatan) diduga dilakukan
dengan cara memanfaatkan batu dan tanah sisi jalan seadanya.
Akibatnya, kerusakan semakin menjadi, sejumlah pekerja di lokasi
mengaku terpaksa melakukan itu atas dasar perintah rekanan serta menjalankan petunjuk pemilik proyek dengan cara memanfaatkan batu dan tanah sisi jalan sebagai material perbaikan jalan.
Kasat mata Pakar pengadaan barang/jasa pemerintah dari Jakarta, Khalid Mustafa menegaskan, cukup aneh jika DBM diduga meminta warga melarang
kendaraan besar melintas, karena yang punya kewenangan melarang kan pemda.
Dia menjelaskan dari sisi pengadaan, yang jelas kondisi pekerjaan harus sama persis dengan ketentuan kontrak, artinya jika di awal dikerjakan dengan diaspal maka harus diaspal kembali saat tahap perbaikan.
“Ya, tidak sesuai, intinya kondisi wajib sama dengan spesifikasi teknis pekerjaan,”kata Konsultan pengadaan barang/jasa pemerintah dari Jakarta ini , Rabu (10/02/2016).
Diketahui, perbaikan ruas jalan provinsi pengubung kecamatan Negri Kanton, Tegineneng dan Bandara Radin Inten II (Branti) Lampung dilakukan dengan cara memanfaatkan batu dan tanah sisi jalan seadanya.
Akibatnya, kerusakan semakin menjadi. Sejumlah pekerja mengatakan terpaksa melakukan itu atas dasar perintah, menjalankan petunjuk pemilik proyek dengan cara memanfaatkan batu dan tanah sisi jalan sebagai material perbaikan jalan.
Warga Negri Katon, Yusak yang merasa prihatin dengan jalan yang baru berjalan 20 hari PHO namun keadaannya sudah sangat memprihatinkan.
“Saya penasaran, saya tanya kok perbaikannya ngambilin tanah dan batu dari sisi jalan, padahal kan itu (Batu) untuk meratakan pinggir, dibilang pekerjaanya mereka ya melakukan itu sesuai petunjuk yang punya,” beber dia.
Pekerja lanjutnya, sebenarnya sudah mengetahui jika itu tidak akan baik untuk ketahanan jalan, namun mereka terpaksa melakukan itu sebab pekerja merasa diintruksikan seperti itu.
Ruas jalan provinsi penghubung dua kecamatan tersebut, belum lama ini mengalami berbagai kerusakan, tak tanggung tanggung kerusakan jalan
cukup parah terjadi di 30 titik. Uniknya kerusakan terjadi setelah PHO baru
berjalan 20 hari lamanya.
Pihak DBM Provinsi Lampung mengaku telah meminta rekanan kembali melakukan perbaikan, namun sayangnya, Perbaikan yang diklaim Bina Marga saat itu hanya formalitas belaka, Pasalnya proses perbaikan hanya memanfaatkan batu pinggiran jalan, menariknya setelah batu tersebut dimasukkan didalam lubang, pihaknya hanya melakukan pemadatan menggunakan mesin kecil,
“Mereka juga menggali jalan rusak itu hanya sebatas hotmix, kemudian setelah ditumpuk batu dipadatkan dengan alat sekecil itu, mereka langsung menyiram dengan aspal yang mereka panaskan menggunakan drum. Hasilnya bukan tambah baik malah tambah hancur, kalau pemerintah gak percaya silahkan
cek lihat sendiri keadaan jalan ini,” katanya.
Dengan keadaan tersebut, Yusak mulai bertanya soal keseriusan pemerintah provinsi dalam memperbaiki ruas jalan dua kecamatan ini. Penyesalan
warga juga tak hanya sampai disitu, Yusak juga menyesalkan, mengetahui
pernyataan dari dinas Bina Marga terkait kerusakan jalan itu, yang menyalahkan
warga tidak bersedia melarang kendaraan besar melintas hingga menjadi faktor kerusakan.

“Kami tidak berharap banyak, kami hanya ingin perbaikan jalan ini dilakukan dengan serius, sekarang bukan 30 titik lagi yang rusak, hampir semua(Aji/ndi)

Tinggalkan Balasan