Diduga Kelalaian Medis, Bocah Dirawat di RSIA Puri Betik Hati Bandar Lampung Meninggal

Bandar Lampung – Pelayanan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Puri Berik Hati disoal.
Seorang anak bernama Abizar Fathan Athallah meninggal dunia setelah mendapatkan perawatan di RSIA Puri Betik Hati.
Pihak keluarga menduga adanya kelalaian dalam penanganan medis oleh RSIA yang berlokasi di Jalan Pajajaran Nomor.109, Jagabaya II, Way Halim, Bandar Lampung.

Abizar Fathan Athallah meninggal dengan cara yang cukup tragis karena dugaan kelalaian oleh pihak RSIA Puri Betik Hati.

Berdasarkan pengakuan Muslim orang tua, Abizar Fathan Athallah, melalui surat yang ia layangkan pada Dinas Kesehatan memaparkan detail kronologi selama di rumah sakit dan meminta adanya investigasi terhadap penanganan medis yang diberikan pihak rumah sakit.

Muslim menceritakan, Abizar Fathan Athallah, sebelumnya dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD) pada 15 Februari 2026 malam. Saat itu, korban mengalami muntah hebat disertai nyeri perut yang parah.

Namun saat mendaftar, dokter memberi kabar kartu BPJS Kesehatan tidak dapat dipergunakan, dan diminta untuk membayar. Muslim menyatakan tidak memiliki biaya, lalu petugas administrasi menghubungi dokter dan memberi kabar harus rawat inap.

“Abizar dirawat inap di RSIA Betik Hati setelah menandatangani berkas, barulah pihak rumah sakit mau memberikan suntikan pereda nyeri dan anti mual serta memasang infus dan mengambil darah anak saya untuk diperiksa,” papar dia.
Selama dua hari berikutnya, kondisi korban disebut semakin memburuk. Ia mengalami muntah berwarna hijau, perut terasa keras, serta menahan rasa sakit yang semakin hebat.

“Keluarga menyebut penanganan yang diberikan saat itu hanya berupa paracetamol dan obat pereda nyeri,” cerita Muslim.

Ia mengaku telah beberapa kali meminta bantuan tambahan kepada petugas medis. Permintaan sederhana seperti kompres hangat untuk membantu meredakan nyeri pun, menurut keluarga, tidak dapat dipenuhi karena alat sedang digunakan pasien lain.

Di ruang perawatan, sejak datang hingga pagi hari, Abizar terus meringis kesakitan menahan sakit perutnya, serta muntah hingga belasan kali. Muslim panik bolak-balik melapor ke ruang perawatan meminta agar diberikan alat bantu kompres.
“Namun diinfokan sedang digunakan pasien di ruangan lain, dan akhirnya saya menggunakan botol air mineral yang saya isi air hangat untuk mengompers perut anak saya. Namun menggunakan air hangat sudah tidak dirasa anak saya, dan ia meminta menggunakan air panas yang diisikan ke botol agar dapat terasa. Saya bolak-balik lapor dan diberikan pil pereda nyeri Jika saya tidak salah ingat paracetamol, bahkan hingga 2x minum perut anak saya tetap sakit dan anak saya terus merintih kesakitan,” cerita Muslim.

Hingga pagi harinya mendapat kabar dari leukosit Abizar tinggi sekali ada infeksi, Abizar diminta untuk diberikan terapi obat anti biotik hingga 6 x dan dilakukan kembali cek darah, disuntik infus dan berulang kali Abizar muntah sampai kuning dan hijau.

“Anak saya terus saja muntah dan merasa sakit pada perutnya,” kata dia.

Hingga keesokan hari, pihak rumah sakit hanya menyuntikkan pereda nyeri, anti mual, anti biotik dan memberikan paracetamol, sementara anak
Situasi semakin genting pada 17 Februari 2026. Dokter spesialis anak kemudian mendiagnosis korban mengalami usus buntu dan merekomendasikan operasi darurat.

Namun meski kondisi korban sudah kritis, tindakan operasi tidak segera dilakukan dan anak tersebut masih harus menunggu berjam-jam.

“Selama menunggu tindakan bedah, Abizar harus menahan lapar dan haus karena diwajibkan menjalani puasa sebelum operasi. Kondisinya terus menurun hingga akhirnya meninggal dunia sebelum sempat menjalani tindakan operasi hingga akhirnya meninggal,” paparnya.
Muslim meminta Dinas Kesehatan melakukan investigasi atas kejadian ini, menindaklanjuti perawat, dokter, pihak manajemen RSIA Puri Betik Hati, serta memberikan sanksi sesuai aturan yang berlaku agar perbaikan pelayanan ke depannya.
“Serta jika kelalaian ini adalah kelalaian yang mengandung unsur pidana karena adanya kelalaian yang mengakibatkan hilangnya nyawa, maka saya ingin ini dapat diproses sesuai hukum yang berlaku,” pinta Muslim.

Sementara pihak RSIA Betik Hati belum berhasil dikonfirmasi. Namun sumber RSIA menyebut
Maslah ini sudah ditindaklanjuti oleh Dinas Kesehatan.
“Info dari direktur sudahdh ditindaklanjuti oleh Dinkes Prov,” kata dia, Jumat (13/3). (Ndi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *