Arafah — Suasana penuh haru menyelimuti tenda jemaah JKS 03 Bogor pada 9 Dzulhijjah saat pelaksanaan khutbah pembuka wukuf yang disampaikan oleh KH. Agus Salim selaku pembimbing haji daerah, Ahad siang pukul 12.30 Waktu Arab Saudi (WAS).
Khutbah dilaksanakan di dalam tenda jemaah menjelang pelaksanaan salat Dhuhur dan menjadi salah satu momentum paling emosional bagi para jemaah haji yang hadir di Padang Arafah.
Jemaah Kloter 3 yang berada di tenda tersebut terdiri dari jemaah KBIHU Darul Istiqomah, KBIHU Assalam, dan KBIHU Miftahul Khair yang sejak kedatangan telah memenuhi tenda dengan suasana dzikir dan lantunan talbiyah.
Tiba di Arafah pada 8 Dzulhijjah bertepatan dengan 25 Mei 2026, seluruh jemaah juga telah dihimbau untuk tidak keluar dari area tenda mengingat cuaca ekstrem yang mencapai sekitar 45 derajat Celsius.
Petugas haji dan pembimbing terus mengingatkan jemaah untuk menjaga kondisi fisik, memperbanyak minum air putih, serta mengurangi aktivitas di luar tenda demi menghindari dehidrasi dan kelelahan akibat teriknya cuaca gurun.
Meski berada dalam suhu yang sangat panas, suasana spiritual para jemaah tetap terasa kuat. Sepanjang waktu, lantunan talbiyah, dzikir, dan doa terdengar bergema dari dalam tenda.
Dalam khutbahnya, KH. Agus Salim mengajak seluruh jemaah meningkatkan ketakwaan dan memperbanyak rasa syukur kepada Allah SWT atas karunia besar dapat menunaikan ibadah haji hingga sampai pada puncak haji, yakni wukuf di Arafah.
“Tidak semua manusia diberi kesempatan hadir di tempat mulia ini. Maka bersyukurlah karena Allah masih memilih kita menjadi tamu-Nya,” ujar beliau di hadapan para jemaah.
Beliau kemudian mengingatkan sabda Rasulullah ﷺ:
“Al-Hajju ‘Arafah.”“Haji itu adalah Arafah.”
Menurutnya, Arafah bukan sekadar tempat berkumpulnya jutaan manusia, tetapi tempat di mana hati seorang hamba benar-benar belajar berserah kepada Allah.
KH. Agus Salim juga menyampaikan beberapa adab penting dalam berdoa, di antaranya ikhlas dalam berniat, yakin kepada Allah, serta berbaik sangka atas setiap ketentuan-Nya.
Beliau mengutip sabda Nabi ﷺ:
“Innamal a‘mālu bin niyyāt.”“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.”
Serta hadits qudsi:
“Ana ‘inda zhanni ‘abdī bī.”“Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku.”
Selain itu, jemaah diajak memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ dan menyebut Asmaul Husna sebelum memanjatkan doa-doa terbaik mereka.
“Gunakan kesempatan langka ini. Bisa jadi ada doa yang bertahun-tahun belum terjawab, lalu Allah ijabah di Padang Arafah,” tutur beliau.
Dalam bagian khutbah yang paling menyentuh, KH. Agus Salim menjelaskan bahwa doa seorang mukmin tidak pernah sia-sia. Beliau menerangkan bahwa Allah memiliki cara terbaik dalam mengabulkan doa hamba-Nya.
Penjelasan tersebut merujuk pada hadits Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri dalam Musnad Ahmad, bahwa tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutus silaturahmi, kecuali Allah akan memberinya salah satu dari tiga perkara.
Pertama, Allah langsung mengabulkan apa yang diminta hamba-Nya.
Kadang manusia benar-benar melihat jawaban doanya hadir di dunia. Apa yang diminta dipermudah, jalan dibukakan, dan harapan diwujudkan oleh Allah.
Kedua, Allah menangguhkan doa itu sebagai bekal di akhirat.
KH. Agus Salim menjelaskan, ada doa yang tidak langsung terlihat hasilnya di dunia, bukan karena Allah tidak mendengar, tetapi karena Allah sedang menyiapkan balasan yang jauh lebih besar pada Yaumul Hisab.
“Boleh jadi di dunia kita merasa doa belum terkabul. Tetapi ternyata Allah menyimpannya menjadi pahala, ampunan, dan kemuliaan yang baru kita pahami nanti di akhirat,” ujarnya.
Ketiga, Allah mengalihkan doa itu menjadi perlindungan dari musibah dan keburukan.
Menurut beliau, sering kali manusia tidak mengetahui bahaya yang sebenarnya sedang Allah jauhkan dari hidupnya.
“Mungkin kita meminta sesuatu lalu tidak diberi. Tetapi ternyata Allah sedang menyelamatkan kita dari kerugian, penyakit, musibah, atau jalan hidup yang buruk,” tutur beliau dengan suara bergetar.
Penjelasan itu membuat suasana tenda semakin hening. Banyak jemaah tampak menundukkan kepala sambil mengusap air mata.
Khutbah kemudian memasuki bagian penutup. KH. Agus Salim memimpin doa bersama dengan suara lirih dan penuh harap.
Tangis para jemaah pecah saat doa dipanjatkan. Banyak yang mengangkat tangan tinggi-tinggi, larut dalam istighfar dan permohonan ampun kepada Allah SWT.
Khutbah diakhiri dengan mushafahah antarjemaah untuk saling memaafkan sebelum memasuki puncak ibadah wukuf.
Satu per satu jemaah saling berjabat tangan, berpelukan, dan meminta maaf dengan penuh haru. Tangis tidak putus terdengar di dalam tenda, bercampur lantunan shalawat yang terus menggema.
Suasana emosional itu berlangsung cukup lama hingga sentuhan tangan terakhir antarjemaah.
Bagi banyak jemaah, momen tersebut bukan sekadar saling berjabat tangan, tetapi menjadi perjumpaan hati yang dipenuhi kesadaran bahwa manusia datang ke Arafah dengan membawa dosa, harapan, dan kerinduan yang sama: ingin pulang sebagai hamba yang diampuni Allah SWT. (Red)
